Ketika aku harus pergi ke tempat dimana aku harus berbagi ilmu dan pengalaman bersama mereka. . . .
Saat mendengar KKNM PPMD integratif, tanda Tanya berkecamuk di dalam hati, bukan gak tau kepanjangannya atau apa yang harus dilakukan, tapi tanda tanya ini dimana aku akan ditempatkan, dan sama siapa aku akan bekerja sama selama satu bulan disana , disana? entah dimana aku ditempatkan untuk KKNM. Akhirnya aku hanya bisa membayangkan tinggal bersama dengan orang-orang yang belum aku kenal di tempat asing itu.
Welcome to the new world!
Waktu aku tapaki pertama kali di sebuah desa yang jauh dari keramaian, desa yang ku pilih untuk KKNM ini adalah desa cibogo, kecamatan padaherang, kabupaten ciamis. Yang ku lihat di desa tersebut yaitu hamparan sawah yang luas dan jalan panjang bebatuan menyambut kedatangan kami di desa ini. Inilah desaku yang ku pilih untuk belajar bersama masyarakat. Awalnya aku ragu memilih desa ini sebagai tempat KKNM, dipikiranku aku takut dapat desa yang jauh dari peradaban,(wah hiperbol banget yaa..hehe..) pikirku aku akan dapat desa yang jauh dari mana-mana dan untuk membeli suatu kebutuhanpun susah didapat, alhasil apa yang ada dipikiranku jauh dengan kenyataan. Desa ini sangat nyaman dan tidak jauh dari jalan raya (yaa kalau udah biasa sih), kalau awal-awal serasa jauh banget untuk ke jalan raya. Tapi inilah desaku yang akan menjadi bagian tugas kami untuk mengabdi dan menjalankan kewajiban sebagai mahasiswa kepada masyarakat di desa cibogo.
Awal kedatangan kami di desa ini disambut ramah oleh pemilik rumah yg menyewakan rumahnya kepada kami yaitu bapak Karsim, di desa beliau menjabat sebagai kepala dusun kalau orang-orang desa menyebutnya pak golongan. Hawa di desa ini memang terasa panas tapi tetap sejuk karena masih banyak pepohonan tidak seperti di kota. Minggu-minggu pertama tinggal disana masih terasa asing tapi senang juga mempunyai keluarga baru dan bisa berbagi ilmu dengan teman-teman dari fakultas lain.
Saat bencengkrama dengan masyarakat desa cibogo, hal yang pertama aku lihat itu unik. Bahasa yang mereka gunakan ada dua bahasa diantaranya bahasa sunda dan bahasa jawa, yaa.. mungkin karena dekat dengan perbatasan propinsi jawa tengah, jadi maklum kalau bahasanya dicampur, sebagian warganya ada yang menggunakan bahasa jawa tapi mengerti bahasa sunda, ada juga yang bicara pakai bahasa sunda tapi tetep medok. Dan kami semua merasa bangga melihat kebudayaan yang dilakukan warga desa cibogo yang sebelumnya tidak ada di daerah kami.
Warga desa cibogo yang mayoritas agama islam, sangat kental dengan acara-acara keagamaan. Aku dan teman-teman selalu mengikuti kegiatan keagaman yang diadakan di desa cibogo, warganya yang ramah dan terbuka membuat kami nyaman. Waktu adzan maghrib tiba kami bersiap untuk shalat berjamaah di mesjid dan bertemu adik-adik yang sedang mengaji, kami berkenalan dengan adik-adik itu. Seneng banget rasanya kami jadi bagian keluarga desa cibogo.
Desa cibogo ini memiliki dua dusun yaitu dusun cibogo dan dusun cibereum serta memiliki 20 RT, sangat lelah dan capek yang kami rasakan saat mendapat tugas dari kordes untuk survey ke bebarapa tempat yang ada di dusun tersebut, tujuan kami untuk survey lapangan itu agar kami tahu potensi alam yang ada di desa cibogo dan masalah-masalah yang terjadi di desa cibogo. Rasa lelah dan capek tergantikan juga dengan hasil yg kami peroleh, di desa cibogo banyak sekali potensi alam yg di jumpai, seperti rawa dan lahan untuk tanaman sayuran, serta sawah yang subur. Permasalahan yang kita jumpai di desa cibogo yaitu sanitasi lingkungan dan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) yang harus di tingkatkan. Kurang aktifnya warga untuk memajukan desa yang memiliki banyak potensi, kalau anak-anak muda di desa cukup kreasi dan berbakat. Organisasi yang terpampang dibalai desa seperti PKK dan Karang taruna sudah dijalankan , ibu-ibu PKK (kader) terlihat aktif, namun karang taruna di desa cibogo terlihat padam, padahal anak-anak muda disana cukup berbakat, namun sayang sekali wadah untuk berkreasi tersebut kurang berkembang.
Seperti tujuan kami mengabdi di desa ini, kami memberikan penyuluhan tentang kesehatan agar warga di desa cibogo sadar akan kesehatan lingkungan dan kesehatan individu, serta peyuluhan pertanian oleh dosen pebimbing lapangan (DPL) kami untuk mengembangkan potensi alam di desa. Hari-hari aku lalui bersama teman-teman satu grup, banyak pengalaman yang terjadi suka duka kami lalui bersama, masih teringat adik-adik yang selalu datang ke tempat kami untuk bermain dan bercerita bersama, dan teringat saat kewalahan mengajar di SD, tapi semua menjadi pengalaman yang bermakna untuk kami.
Saat hari-hari terakhir tiba, aku dan seorang temanku satu fakultas datang ke rumah seorang kader PKK yaitu ibu Siti, beliau sangat membantu kami untuk melakukan kegiatan. Aku dan temanku itu bermaksud untuk mengundang bahwa kami akan mengadakan malam perpisahan, dan memberitahu esok hari kami akan pulang, beliau tidak bisa menahan air matanya saat mendengar kami akan pulang dan aku serta temanku ikut sedih. Akupun berjanji kalau masih diberi umur aku akan datang kembali . Di malam perpisahan kami mengadakan nonton bersama warga desa cibogo, adik-adik sangat antusias dan gembira, meskipun sedikit kecewa hanya beberapa warga saja yang hadir menyaksiskan, namun kami sangat senang karena suka cita adik-adiklah yang membuat kami tetap bahagia.
Saat hari kepulangan kami tiba, kami pamit ke para tetangga yang dekat dengan rumah kami dan termasuk pamit ke SDN 1 Cibogo. Waktu kami akan berangkat pulang untunglah ada truk yang berkenan mengangkut kami ke jalan dimana bis telah menunggu kami disana, namun suasana haru menghiasi kepergian kami ketika ada seorang murid SD yang sudah dekat dengan kami berlari mendekati ke arah kami sambil menangis ia mengatakan ‘’kakak jangan pergi….’’ Air mata akupun jatuh secara tiba-tiba. Kami semua bilang ‘’dek nanti suatu saat kakak kesini lagi’’. Sedih senang semua jadi satu, sedih saat harus meninggalkan desa dan senang karna kita sudah boleh pulang.
Jika aku menjadi warga desa cibogo aku ingin menjadikan warga desa berpola hidup sehat dan bersih, mengumpulkan warga untuk bergotong royong dalam sanitasi lingkungan, serta ingin mengajak semua warga untuk berperan aktif mengembangkan potensi alam yang ada di desa cibogo, menghidupkan kembali karang taruna agar anak muda tetap berkreasi, serta memotivasi anak-anak agar terus sekolah dan bisa tercapai cita-cita mereka.
Itu hanya sepenggal cerita, masih banyak lagi cerita yang unik saat berada disana. Senang sekali bisa kenal dan hidup bersama selama kurang lebih satu bulan dengan keluarga cemara.. Fadhil (Kordes), Tika, Maria, Emak Iput, bang jack, David, Susi, Duha, Ainal, Sue, Pua, Ayu, Komeng, Dara, Jo, Agus, Mamet, Aep, Putri.. Terimakasih telah memberikan sebuah cerita dalam hidup.
Tak lupa berterimakasih kepada pak kadus (Bpk. Karsim) dan Ibu Siti serta warga lainnya yang telah memberikan dedikasinya membantu kami selama di desa cibogo. Banyak pengalaman dan pelajaran yang sangat berharga yang kami dapat selama disana.
Ada cerita tentang aku dan dia dan kita bersamaa saat KKNM di desaku yang ku cinta, CIBOGO…..:)
Kalau ada sumur di ladang
Boleh kita menumpang mandi
Kalau ada umur yang panjang
Boleh kita berjumpa lagi………………
SEE YOU NEXT TIME……
Created by : Ilma Fahma N.S, Mahasiswi Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran.
mantaf dah smoga KKN nya berguna ya...:)
BalasHapusiia makasii roy...:)
BalasHapusijaaaaaaaaaaaalll dasoorr
BalasHapus